23 July 2012

Aku, Asap, dan Soda diantara Bayangan Masa Lalu

Bagiku, ada masa lalu yang selalu ingin terulang. Masa ketika aku bisa berpikir dan bertindak merdeka. Beberapa tahun terakhir aku asing dengan kepulan asap dan soda. Ada rasa ingin kembali kesana, ke sebuah kota jauh yang tak pernah terjangkau langkah. Sekuat apapun menahan rasa itu, tak bisa tergantikan jika kaki masih berada di daratan yang berbeda.
Hingga akhirnya, alunan musik yang membawamu ke alam sana tak akan lengkap tanpa asap dan soda, seperti dulu yang pernah aku lakukan sebagai ritual dalam aktivitas malam. Bukan untuk apa-apa, hanya mencoba menculik jiwa yang dulu pernah membuatku selalu optimis dalam hidup, selalu bisa melihat lebih dalam pada sebuah kesusahan.Aku heran dengan diri yang kini, terlalu diseret emosi dan disorientasi pada tujuan hakiki.
14 June 2012

Bahagia Bukan Pilihan

Jika seharusnya masa muda itu digunakan untuk hal-hal terbaik dalam hidup. Bekerja, melakukan hobi, berkumpul dan tertawa atau semua aktivitas yang membuat kita bisa menatap masa depan; kondisi yang membuat kita optimis untuk hidup.
Tapi bisa dibayangkan, jika hanya ada dinding dihadapan, atau sekedar pagar rumah yang menjadi pembatas. Kau hanya hidup diantaranya. Melangkah keluarnya pun tak pernah bisa membuat optimis membekas, hanya kesenangan yang kemudian lenyap ditelan suasana ketika kembali menatap dinding-dinding dan melangkah ke pagar rumah yang bisu.
12 June 2012

Bertarung dan Menang

Sabtu lalu, sebuah ajang kejuaraan Tarung Derajat dilaksanakan di Banda Aceh. Pesertanya adalah Petarung terbaik yang mewakili Satuan Latihannya.
Semua Petarung menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki sekaligus merupakan ujian atas hasil latihannya selama ini. Yang terpenting dalam sebuah pertarungan adalah pengendalian diri. Pengendalian diri adalah senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan ketakutan.
Pemenang pertarungan ini akan mendapatkan medali sebagai perlambang keberhasilan. Tapi bagiku, medali yang paling berharga dalam suatu pertarungan adalah persaudaraan.

25 January 2011

Three words for me, please

Situs ini entah bisa dikategorikan jejaring sosial atau tidak yang jelas situs yang satu ini bisa dikatakan unik dan sederhana, threewords. Ya, cukup menulis tiga kata. Tiga kata untuk mendeskripsikan teman kita bahkan kita dapat mengisi 3 kata untuk orang lain dengan akun anonymous. Saya baru mencobanya kemarin dan seru!

Berikut ini profile page saya:


Menarik bukan, tunggu apalagi, describe me in three words here :)

Melompati Waktu

Ini bulan ke-7 aku berada di kota ini tanpa ada sesuatu yang spesial disini. Tidak ada keteraturan yang berarti. Ada aktivitas lain disini. Aku tidak bisa diam dan hanya menatap layar selalu. Aku Si Acak Abstrak, selalu ingin bereksperimen dan melakukan hal yang baru, semauku. Tetap saja, aku 'melayani' disini, di kota ini

Sebuah perjalanan yang tidak normal bagiku. Bangun pagi: mandi, rapi-rapi, dan ke kampus, begitu seharusnya aku. Kini, bangun pagi adalah mimpi buruk. Kadang aku melewatkan muncul timbulnya matahari, momen eksotis dalam sehari. Di penghujung 2010 lalu aku mulai menyadari kerapuhan yang sedang aku alami: meski dalam kondisi yang sangat tidak normal ini, aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya normal kembali. Aku ingin kembali kuliah! Mungkin tidak sekarang. Sekarang adalah masa indahku yang hilang, hampa. 

Menuju ke arah yang lebih baik, melangkah pada tujuan. Bahkan jika bisa aku kesana dengan melompat. Dari ide itulah, aku mencoba mendekati Parkour (lagi). Melompat atau jatuh, itulah Parkour bagiku. Dengan fasilitas yang aku punya, mulailah aku mencari informasi Parkour di Banda Aceh hingga ke 'gang sempit' dunia maya. Hasilnya nihil. Aku tidak berputus asa, kata kunci 'Parkour' dan 'Banda Aceh' selalu aku isi apda kolom pencarian, halaman demi halaman aku baca dengan teliti hingga akhirnya aku menemukan seseorang yang berminat untuk latihan Parkour di Banda Aceh. Beberapa hari setelahnya kami bertemu dan latihan bersama sampai hari ini. 

Parkour bagiku adalah journey, sebuah perjalanan fisik dan mental. Di Banda Aceh aku berlabuh, meninggalkan Bandung yang aku rasakan sebagai kampung halaman yang lain bagiku. Maka perjalanan mencari titik obtacles terus berlanjut disini. Perjalanan hidup yang tidak normal. Aku mencoba bangkit di awal tahun ini, 2011. Aku ingin semuanya normal meski jauh dari normal yang aku inginkan untuk melanjutkan pendidikan. Minimal mentalku menjadi normal. Bersama parkour, aku melompati obtacles (rintangan-rintangan) dengan harapan aku juga bisa melompati rintangan-rintangan dalam kehidupanku. Jangan bersedih, melompatlah sejauh yang kau mau!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...